Pages

Saturday, October 29, 2011

Ciri-Ciri Ideal Bumi

Agar kita tetap ada, dituntut ketepatan dalam bidang-bidang lain juga. Pertimbangkan ukuran bumi dan posisinya dalam hubungannya dengan selebihnya tatasurya kita. Buku Ayub di dalam Alkitab memuat pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita rendah hati, "Dimanakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? . . .

Siapakah yang telah menetapkan ukurannya? Bukankah engkau mengetahuinya?" (Ayub 38:4, 5) Tidak pernahm sebelumnya pertanyaan-pertanyaan itu menuntut jawaban. Mengapa? Karena hal-hal menakjubkan yang telah ditemukan tentang bumi kita—termasuk ukuran dan posisinya dalam tata surya kita.

Di tempat lain di jagat raya ini, tidak ditemukan planet lain seperti bumi. Memang, beberapa ilmuwan menunjuk pada bukti-bukti tidak langsung bahwa bintang-bintang tertentu memiliki objek-objek yang mengorbit mereka yang ratusan kali lebih besar daripada bumi. Namun, bumi kita memiliki ukuran yang sangat tepat bagi eksistensi kita. Dalam arti apa? Jika bumi sedikit lebih besar, gravitasinya akan lebih kuat, dan hidrogen, gas yang ringan, akan mengumpul, karena tidak dapat menjauh dari gravitasi bumi Dengan demikian, atmosfer tidak akan ramah bagi kehidupan. Di pihak lain, jika bumi kita sedikit lebih kecil, oksigen yang menopang kehidupan akan hilang dan air di permukaan akan menguap. Kedua keadaan ini sama saja, kita tidak dapat hidup.
"Kondisi-kondisi istimewa di bumi yang dihasilkan oleh ukurannya yang ideal, komposisi unsur, dan orbit yang hampir membentuk lingkaran pada jarak yang sempurna dari sebuah bintang abadi, yaitu matahari, memungkinkan pengumpulan air di permukaan bumi." (Integrated Principles of Zoology, edisi ke-7). Tidak mungkin ada kehidupan di bumi tanpa air.
Suatu faktor lain yang penting agar kehidupan dapat berkembang adalah bumi berada pada jarak yang ideal dari matahari. Astronom, John Barrow dan ahli matematika, Frank Tipler mempelajari "perbandingan radius dan jarak Bumi dari Matahari". Mereka menyimpulkan bahwa kehidupan manusia tidak akan ada "seandainya perbandingan ini sedikit berbeda daripada yang diamati". Profesor David L. Block memperhatikan, "Kalkulasi memperlihatkan bahwa seandainya bumi terletak hanya 5 persen saja lebih dekat ke matahari, efek rumah kaca yang tidak terkendali [bumi menjadi terlalu pangs] sudah akan terjadi kira-kira 4.000 juta tahun yang lalu. Di pihak lain, jika bumi diletakkan hanya 1 persen saja lebih jauh dari matahari, proses menjadi es yang tidak terkendali [lapisan-lapisan es yang lebar menutupi sebagian besar bumi] sudah akan terjadi sekitar 2.000 juta tahun yang lalu."— Our Universe: Accident or Design?

Selain ketepatan di atas, Anda dapat menambahkan fakta bahwa rotasi bumi pada porosnya terjadi satu kali sehari, kecepatan yang tepat untuk menghasilkan suhu yang sedang. Venus berotasi satu kali selama 243 hari. Bayangkan jika bumi juga demikian! Kita tidak dapat bertahan hidup melewati suhu yang sangat ekstrem yang dihasilkan oleh siang dan malam yang panjang seperti itu.

Perincian penting lain adalah jalur bumi kita mengelilingi matahari. Komet bergerak mengikuti jalur elips yang lebar. Syukurlah, tidak demikian halnya dengan bumi Orbit bumi hampir berbentuk lingkaran. Sekali lagi, ini mencegah kita mengalami suhu-suhu ekstrem yang mematikan.

Dua Gaya Nuklir

Struktur jagat raya ini melibatkan lebih banyak hal selain penyetelan yang teliti atas gravitasi dan gaya elektromagnetik. Dua gaya fisik lain juga berhubungan dengan kehidupan kita.

Dua gaya ini beroperasi dalam inti sebuah atom, dan keduanya memberikan bukti yang kuat akan adanya pemikiran sebelumnya. Pertimbangkan gaya nuklir yang kuat, yang mengikat proton-proton dan neutron-neutron dalam inti sebuah atom. Karena ikatan ini, berbagai unsur dapat terbentuk - unsur yang ringan (seperti helium dan oksigen) dan unsur-unsur yang berat (seperti emas dan timbel). Tampaknya jika ikatan ini hanya 2 persen lebih lemah, hidrogen saja yang terbentuk. Sebaliknya, jika gaya ini sedikit lebih kuat, hanya unsur yang lebih berat, namun bukan hidrogen, yang dapat ditemukan. Apakah kehidupan kita akan terpengaruh? Nah, jika jagat raya ke-kurangan hidrogen, matahari kita tidak akan memiliki bahan bakar yang dibutuhkannya untuk memancarkan energi pemberi hidup. Dan, tentu saja, kita tidak akan memiliki air atau makanan, karena hidrogen adalah unsur yang penting bagi keduanya.
Kombinasi Berbagai Kebetulan"
"Jika gaya yang lemah sedikit lebih kuat, maka tidak ada helium yang akan dihasilkan; jika gayanya sedikit lebih lemah, nyaris semua hidrogen akan diubah menjadi helium."
"Kemungkinan bagi sebuah jagat raya yang memiliki helium dan juga ledakan-ledakan supernova sangat kecil. Eksistensi kita bergantung pada kombinasi berbagai kebetulan ini, dan kebetulan yang bahkan lebih dramatis pada tingkat energi nuklir yang diramalkan oleh [astronom Fred] Hoyle. Tidak seperti semua generasi sebelumnya, kita tahu bagaimana kita sampai ada di sini. Namun, seperti semua generasi sebelumnya, kita masih tidak tahu alasannya." —New Scientist.
Gaya yang keempat dalam pembahasan ini, yang disebut gaya nuklir yang lemah, mengendalikan kerusakan radioaktif. Gaya ini juga mempengaruhi kegiatan ter-monuklir dalam matahari kita. 'Apakah gaya ini disetel dengan teliti?' Anda mungkin bertanya. Freeman Dyson, seorang ahli matematika dan ahli fisika, menjelaskan, "[Gaya] yang lemah jutaan kali lebih lemah daripada gaya nuklir. Gaya ini begitu lemah sehingga hidrogen dalam matahari terbakar pada tingkat yang lambat dan tetap. Jika [gaya] yang lemah menjadi lebih kuat atau lebih lemah, banyak bentuk kehidupan yang bergantung pada bintang-bintang yang seperti matahari akan berada dalam kesulitan. Ya, tingkat pembakaran yang persis ini, membuat bumi kita tetap hangat - namun tidak terbakar -- dan membuat kita tetap hidup.

Selain itu, para ilmuwan percaya bahwa gaya yang lemah itu berperan dalam ledakan-ledakan supernova, yang dilakukan sebagai mekanisme untuk menghasilkan dan menyalurkan sebagian besar unsur. "Jika gaya nuklir itu sedikit saja berbeda dari keadaannya saat ini, bintang-bintang tidak dapat membuat unsur-unsur yang membentuk Anda dan saya," demikian penjelasan ahli fisika John Polkinghorne.

Banyak hal lagi dapat dikemukakan, namun Anda kemungkinan besar telah dapat memahami intinya. Ada suatu tingkat penyetelan yang teliti yang menakjubkan untuk empat gaya fundamental ini. "Di sekeliling kita, tampaknya, kita melihat bukti bahwa di alam ini segala sesuatu sangat tepat," demikian tulis Profesor Paul Davies. Ya, penyetelan gaya-gaya fundamental ini secara persis telah memungkinkan eksistensi dan bekerjanya matahari kita, planet kita yang indah dengan airnya yang menopang kehidupan, atmosfer kita yang begitu penting bagi kehidupan, dan beraneka ragam unsur-unsur kimia yang berharga di bumi. Namun, tanyailah diri Anda, 'Mengapa dan dari manakah penyetelan yang persis ini?'

Friday, October 28, 2011

Penyetelan yang Teliti

Empat gaya fundamental berpengaruh baik pada luasnya kosmos maupun pada tak terhingga kecilnya struktur atom. Ya, segala sesuatu yang kita lihat di sekitar kita terlibat.

Unsur-unsur yang sangat penting bagi kehidupan kita (khususnya karbon, oksigen, dan besi) tidak mungkin ada jika tidak ada penyetelan yang teliti untuk empat gaya yang nyata dalam jagat raya ini. Kita telah menyebutkan satu gaya, gravitasi. Yang lain adalah gaya elektromagnetik. Jika gaya ini. sangat lemah, elektron-elektron tidak akan terikat di sekitar inti sebuah atom. 'Apakah itu problem yang serius?' beberapa orang mungkin bertanya-tanya. Ya, karena atom-atom tidak dapat bersatu untuk membentuk molekul-molekul. Sebaliknya, jika gaya ini jauh lebih kuat, elektron-elektron dapat terperangkap dalam inti sebuah atom. Tidak dapat terjadi reaksi-reaksi kimia antaratom—berarti tidak ada kehidupan. Bahkan dari sudut pandangan ini, jelas bahwa eksistensi kita dan kehidupan bergantung pada penyetelan gaya elektromagnetik secara teliti.

Lalu pertimbangkanlah skala kosmis: Suatu perbedaan kecil dalam gaya elektromagnetik akan mempengaruhi matahari dan dengan demikian mengubah jangkauan cahaya ke bumi, sehingga fotosintesis pada tanaman sulit atau mustahil terjadi. Perbedaan ini juga dapat merampas dari air sifat-sifatnya yang unik, yang penting bagi kehidupan. Jadi sekali lagi, penyetelan gaya elektromagnetik secara persis menentukan apakah kita hidup atau tidak.
Yang sama pentingnya adalah intensitas gaya elektromagnetik dalam hubungannya dengan tiga gaya lainnya. Misalnya, beberapa ahli fisika menghitung bahwa gaya ini 10.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000 (10^40) kali gravitasi. Mungkin tampak suatu perubahan kecil saja pada angka itu untuk menambah satu nol lagi (1041). Namun, itu akan berarti bahwa gravitasi secara proporsional menjadi lebih lemah, dan Dr. Reinhard Breuer mengomentari keadaan yang diakibatkannya, "Dengan gravitasi yang lebih rendah, bintang-bintang akan menjadi lebih kecil, dan tekanan gravitasi di dalamnya tidak akan menyebabkan suhu cukup tinggi untuk terjadinya reaksi-reaksi fusi nuklir: matahari tidak akan dapat bersinar." Anda dapat bayangkan apa artinya hal itu bagi kita!

Bagaimana jika gravitasi lebih kuat secara proporsional, sehingga angka tersebut di atas hanya memiliki 39 nol (1039)? "Hanya dengan penyesuaian kecil ini," lanjut Breuer, "sebuah bintang seperti matahari, akan berkurang drastis harapan hidupnya." Dan para ilmuwan lain menganggap penyetelan yang teliti itu sebenarnya bahkan lebih persis lagi.

Sesungguhnya, dua sifat yang luar biasa dari matahari kita dan bintang-bintang lain adalah efisiensi dan stabilitas berjangka panjang. Pertimbangkan sebuah ilustrasi sederhana. Kita tahu bahwa agar berjalan dengan efisien, sebuah mesin mobil membutuhkan perbandingan yang tepat antara bahan bakar dan udara; para ahli mesin merancang sistem mekanis dan komputer yang rumit untuk mengoptimalkan kinerjanya. Jika untuk sebuah mesin saja perlu demikian, bagaimana dengan bintang-bintang yang "menyala" secara efisien seperti matahari kita?
Empat Gaya Fisik yang Fundamental
  1. Gravitasi—suatu gaya yang sangat lemah pengaruhnya pada atom-atom. Ini mempengaruhi objek-objek yang besar —planet, bintang, galaksi.
  2. Elektromagnetisme—gaya penarik utama antara proton dan elektron, memungkinkan terbentuknya molekul. Kilat adalah salah satu bukti tenaganya.
  3. Gaya nuklir yang kuat—gaya yang merekatkan proton dan neutron dalam inti sebuah atom.
  4. Gaya nuklir yang lemah—gaya yang mengendalikan kerusakan unsur-unsur radioaktif dan kegiatan termonuklir yang efisien dari matahari
Gaya-gaya utama yang terlibat disetel secara persis, dioptimalkan demi kehidupan. Apakah ketepatan itu terjadi secara kebetulan? Kepada Ayub, pria yang hidup di masa lampau, diajukan pertanyaan, "Apakah engkau mencetuskan hukum-hukum yang mengatur langit, atau menentukan hukum-hukum alam di bumi?" (Ayub 38:33, The New English Bible) Tidak ada manusia yang melakukannya. Maka, dari manakah asal ketepatan ini?

Upaya untuk Menjelaskan Permulaan

Dapatkah para ahli sekarang menjelaskan asal mula jagat raya? Banyak ilmuwan, yang merasa sulit menerima gagasan bahwa jagat raya diciptakan oleh kecerdasan yang lebih tinggi, berspekulasi bahwa melalui suatu mekanisme, jagat raya menciptakan diri sendiri dari ketiadaan. Apakah itu terdengar masuk akal bagi Anda? Spekulasi semacam itu biasanya mencakup beberapa variasi dari sebuah teori (model inflasi jagat raya)  yang disusun pada tahun 1979 oleh ahli fisika Alan Guth. Namun, belum lama ini, Dr. Guth mengakui bahwa teorinya "tidak menjelaskan bagaimana jagat raya muncul dari ketiadaan". Dr. Andrei Linde lebih eksplisit lagi dalam sebuah artikel di Scientific American, "Menjelaskan ketunggalan awal ini dimana dan kapan semua itu terjadi—masih tetap merupakan masalah kosmologi modern yang paling tidak terpecahkan."

Upaya Menghitung Bintang
Diperkirakan bahwa galaksi Bima Sakti memiliki 100.000.000.000 (100 miliar) lebih bintang. Bayangkan bila sebuah ensiklopedia menyediakan satu halaman untuk setiap bintang ini—matahari kita dan selebihnya dalam tata surya kita akan terbatas dalam satu halaman. Berapa banyak jilid dibutuhkan ensiklopedia ini untuk menguraikan bintang-bintang dalam Bima Sakti?

Dengan jilid-jilid yang ketebalannya masuk akal, konon ensiklopedia ini tidak dapat ditampung dalam Perpustakaan Umum New York, yang rak-rak bukunya sepanjang 412 kilometer jika dijumlahkan!
Berapa banyak waktu yang Anda butuhkan untuk menyelidiki halaman-halamannya? "Untuk membolak-balikkan halamannya, dengan kecepatan satu halaman per detik, akan dibutuhkan sepuluh ribu tahun lebih," demikian dijelaskan Coming of Age in the Milky Way. Namun, bintang-bintang yang membentuk galaksi kita hanyalah satu bagian kecil dari bintang-bintang dalam 50.000.000.000 (50 miliar) galaksi yang diperkirakan ada dalam jagat raya. Jika ensiklopedia ini memuat satu halaman untuk setiap bintang ini, semua rak perpustakaan di bumi tidak akan cukup. "Semakin banyak yang kita ketahui tentang jagat raya," tulis buku ini, "semakin kita melihat betapa sedikit yang kita ketahui."

Jika para ahli tidak dapat benar-benar menjelaskan asal mula atau perkembangan awal jagat raya kita, bukankah kita hendaknya mencari penjelasan dari sumber lain? Memang, Anda memiliki alasan yang kuat untuk mempertimbangkan beberapa bukti yang diabaikan banyak orang namun yang dapat memberi Anda pemahaman yang benar tentang masalah ini. Buktinya mencakup ukuran yang tepat dari empat gaya fundamental yang bertanggung jawab atas segala sifat dan perubahan yang mempengaruhi zat. Baru mendengar disebutkannya gaya fundamental saja, beberapa orang mungkin sudah merasa ragu, dan berpikir, 'Itu semata-mata untuk para ahli fisika.' Tidak. Karena mempengaruhi kita, fakta-fakta dasar ini patut dipertimbangkan.
Jastrow — Tentang Permulaan Jagat Raya
Robert Jastrow, Profesor Astronomi dan Geologi di Columbia University, menulis, "Beberapa astronom bisa saja mengantisipasi bahwa peristiwa ini - kelahiran Jagat Raya secara tiba-tiba - akan menjadi fakta ilmiah andalan, namun observasi langit melalui teleskop-teleskop telah memaksa mereka membuat kesimpulan tersebut."

Ia kemudian mengomentari implikasinya, "Bukti astronomi mengenai adanya suatu Permulaan memojokkan para ilmuwan, karena mereka percaya bahwa setiap pengaruh memiliki penyebab alami . . Astronom Inggris, E. A. Milne menulis, 'Kita tidak dapat membuat proposisi tentang keadaan [pada permulaan]; dalam tindakan Ilahi berupa penciptaan, Allah tidak diamati dan tidak disaksikan'."—The Enchanted Loom—Mind in the Universe.

Sunday, October 23, 2011

Bukti-Bukti Menunjuk Pada Suatu Permulaan

Semua bintang yang dapat Anda lihat, berada dalam galaksi Bima Sakti. Sampai tahun 1920-an, Bima Sakti disangka sebagai satu-satunya galaksi. Namun, Anda mungkin tahu bahwa observasi dengan teleskop yang lebih besar setelah itu membuktikan sebaliknya. Jagat raya kita memuat sekurang-kurangnya 50.000.000.000 galaksi. Kami tidak memaksudkan 50 miliar bintang, tetapi sekurang-kurangnya 50 miliar galaksi, yang masing-masing memiliki miliaran bintang seperti matahari kita. Sekalipun demikian, yang mengguncangkan kepercayaan ilmiah pada tahun 1920-an bukanlah jumlah yang mencengangkan dari galaksi-galaksi yang besar. Yang mengejutkan adalah fakta bahwa semua galaksi ini bergerak.
Astronom Edwin Hubble (1889-1953) sadar bahwa perubahan cahaya merah pada galaksi-galaksi yang jauh memperlihatkan bahwa jagat raya kita meluas dan dengan demikian memiliki suatu permulaan.
Para astronom menemukan suatu fakta yang luar biasa: Sewaktu cahaya galaksi menembus sebuah prisma, gelombang cahaya tampak merentang, menunjukkan gerakan yang menjauh dari kita dengan kecepatan tinggi. Semakin jauh sebuah galaksi, semakin cepat itu tampak menjauh. Ini menunjukkan bahwa jagat raya meluas!*
Pada tahun 1995, para ilmuwan memperhatikan perilaku ganjil bintang yang paling jauh (SN 1995K) yang pernah terlihat sewaktu meledak dalam galaksinya. Seperti supernova dalam galaksi-galaksi tetangga, bintang ini menjadi sangat terang dan kemudian lambat laun meredup namun itu terjadi dalam suatu periode yang lebih lama daripada yang pernah dideteksi sebelumnya. Majalah New Scientist menandai hal ini pada sebuah grafik dan menjelaskan, "Bentuk garis lengkung cahaya... pada akhirnya merentang tepat sesuai jumlah waktu yang diharapkan jika galaksi tersebut menjauh dari kita dalam setengah kecepatan cahaya." Kesimpulannya? Ini adalah "bukti terbaik sejauh ini bahwa Jagat Raya benar-benar meluas".
Bahkan meskipun kita bukan seorang astronom yang profesional maupun yang amatir, kita dapat melihat bahwa suatu jagat raya yang meluas memiliki implikasi yang teramat dalam terhadap masa lalu kita—dan bisa jadi masa depan kita juga. Sesuatu pasti telah memulai proses ini —suatu gaya yang cukup kuat untuk menaklukkan gravitasi yang luar biasa dari seluruh jagat raya. Anda memiliki alasan yang kuat untuk bertanya, 'Apa yang mungkin menjadi sumber energi dinamis semacam itu?'

Meskipun kebanyakan ilmuwan menelusuri jagat raya sampai ke suatu permulaan yang sangat kecil dan padat (suatu ketunggalan), kita tidak dapat menghindari persoalan utama ini, "Jika pada suatu waktu di masa lalu, Jagat Raya dahulunya mendekati suatu keadaan tunggal yang berukuran sangat kecil dan sangat padat, kita harus bertanya apa yang ada di sana sebelumnya dan apa yang ada di luar Jagat Raya. Kita harus menghadapi problem berkenaan suatu Permulaan."—Sir Bernard Lovell.

Ini menyiratkan lebih daripada sekadar suatu sumber energi yang sangat besar. Prakiraan dan kecerdasan juga dibutuhkan karena tingkat perluasannya tampak disetel dengan sangat teliti. "Jika Jagat Raya telah meluas lebih cepat sepersetriliun," kata Lovell, "maka semua materi dalam Jagat Raya sudah tercerai-berai sekarang. . . . Dan jika lebih lambat sepersetriliun, maka gaya gravitasi akan menyebabkan Jagat Raya runtuh dalam waktu seribu juta tahun pertama atau lebih dari masa eksistensinya. Lagi-lagi, tidak akan ada bintang-bintang yang abadi dan tidak mungkin ada kehidupan."

Bagaimana Asal Mula Jagat Raya Kita? Suatu Perdebatan

PARA astronaut merasa tergetar sewaktu memotret bumi yang tampak sangat besar melalui jendela sebuah pesawat ruang angkasa. "Itulah bagian terbaik penerbangan di ruang angkasa," kata seorang astronaut. Namun, bumi kita tampak sangat kecil bila dibandingkan dengan tata surya. Matahari dapat memuat jutaan bumi di dalamnya dan masih ada ruang tersisa! Akan tetapi, apakah fakta-fakta demikian tentang jagat raya ada hubungannya dengan kehidupan Anda dan maknanya?

Marilah kita melakukan perjalanan sejenak ke ruang angkasa untuk melihat bumi dan matahari kita dalam angan-angan. Matahari kita hanya salah satu dari sejumlah besar bintang dalam lengkung-lengkung spiral galaksi Bima Sakti*,  yang merupakan bagian kecil dari jagat raya. Dengan mata telanjang, kita dapat melihat beberapa berkas cahaya yang sebenarnya adalah galaksi-galaksi lain, seperti galaksi Andromeda yang indah dan lebih besar. Bima Sakti, Andromeda, dan kira-kira 20 galaksi lain diikat oleh gravitasi dalam sebuah gugusan, yang semuanya ini hanya suatu lingkungan kecil dalam sebuah adigugusan yang sangat besar. Jagat raya berisi begitu banyak adigugusan, dan gambarannya tidak sampai di situ saja.

Garis tengah galaksi Bima Sakti kira-kira satu kuintiliun kilometer, —ya, 1.000.000.000.000.000.000 kilometer! Diameter Bima Sakti kira-kira 100.000 tahun cahaya, dan satu galaksi ini terdiri dari 100 miliar bintang lebih.
Gugusan-gugusan itu tersebar dengan tidak beraturan di ruang angkasa. Dalam skala besar, mereka tampak seperti sebuah lapisan tipis dan kawat pijar di sekeliling kehampaan besar yang seperti gelembung. Bentuk beberapa gugusan begitu panjang dan lebar sehingga menyerupai dinding-dinding besar. Hal ini mungkin mengejutkan banyak orang yang mengira bahwa jagat raya kita tercipta sendiri secara kebetulan dalam suatu ledakan kosmis. "Semakin jelas kita melihat jagat raya dengan segala perinciannya yang luar biasa," demikian kesimpulan seorang penulis senior untuk Scientific American, "semakin sulit kita menjelaskan dengan sebuah teori sederhana bagaimana jagat raya kita menjadi seperti itu."

Meremehkan Pencipta—Mengapa?

Sebenarnya, kecenderungan untuk meremehkan agama atau Allah bermula dari filsafat manusia yang menekankan perlunya alasan murni. Charles Darwin merasa bahwa "seleksi alam" menjelaskan dunia makhluk hidup dengan lebih baik daripada konsep tentang eksistensi Pencipta. Sigmund Freud mengajarkan bahwa Allah adalah suatu ilusi. Dan pandangan bahwa 'Allah sudah mati', ada sejak masa Friedrich Nietzsche sampai zaman kita. Filsafat-filsafat Timur juga serupa. Para guru Buddhisme percaya bahwa kita tidak perlu mengenal Allah. Mengenai aliran Shinto, Profesor Tetsuo Yamaori menyatakan bahwa "allah-allah itu manusia belaka".

Meskipun ada banyak sekali skeptisisme tentang eksistensi Pencipta, apakah ini dapat dibenarkan? Kemungkinan besar Anda mengetahui contoh 'fakta-fakta ilmiah' yang populer di masa lalu namun akhirnya terbukti sama sekali keliru. Pandangan seperti 'Bumi datar' dan 'Seluruhjagat raya berputar mengelilingi bola bumi' populer selama berabad-abad, tetapi kini kita tahu yang sebenarnya.
Bagaimana dengan gagasan-gagasan ilmiah yang belakangan? Misalnya, filsuf abad ke-18, David Hume—yang tidak menerima adanya Pencipta—tidak dapat menjelaskan rancangan biologi yang rumit di bumi. Teori Darwin mengemukakan bagaimana bentuk kehidupan berkembang, namun teori ini tidak menjelaskan bagaimana kehidupan mulai atau apa maknanya bagi kita.

Oleh karena itu, banyak ilmuwan serta orang awam merasa bahwa ada sesuatu yang kurang. Teori-teori ilmiah mungkin berupaya menjelaskan bagaimana? namun pertanyaan kunci berpusat pada mengapa? Bahkan orang-orang yang dibesarkan di tengah-tengah kepercayaan pada Pencipta juga terpengaruh. Seorang siswa muda yang mempelajari sejarah Eropa mengatakan, "Bagi saya, Allah sudah mati. Jika Ia benar-benar ada, dunia ini tidak akan berantakan: Orang-orang yang tidak bersalah, kelaparan; spesies-spesies binatang, punah. Gagasan tentang Pencipta adalah omong kosong." Mengingat keadaan di bumi, banyak orang tidak dapat mengerti mengapa Pencipta—bila Ia memang ada—tidak membuat perbaikan atas segala sesuatu.

Namun, kita harus mengakui bahwa alasan banyak orang menolak eksistensi Pencipta adalah karena mereka tidak ingin percaya. "Sekalipun Allah memberi tahu saya secara pribadi bahwa saya harus mengubah kehidupan saya," kata seorang industrialis Eropa kepada seorang karyawan, "saya tetap tidak mau melakukannya. Saya ingin menjalani kehidupan sesuka hati saya." Jelaslah, beberapa orang merasa bahwa mengakui wewenang Pencipta akan bertentangan dengan kebebasan mereka atau dengan gaya hidup yang mereka pilih. Mereka mungkin menyatakan, 'Saya hanya mempercayai apa yang saya lihat, dan saya tidak dapat melihat Pencipta yang tidak kelihatan'.

Terlepas dari mengapa orang-orang telah 'meremehkan Pencipta', pertanyaan tentang kehidupan dan maknanya masih terus ada. Setelah manusia mulai mengadakan eksplorasi ke luar angkasa, teolog Karl Barth ditanyai tentang kemenangan dalam bidang teknologi ini. Ia mengatakan, "Hal ini tidak menuntaskan satu pun problem yang membuat saya tidak bisa tidur." Dewasa ini manusia terbang di antariksa dan membuat kemajuan pesat di ruang siber (cyberspace). Meskipun demikian, orang yang rasional melihat perlunya memiliki suatu tujuan, sesuatu yang memberikan makna bagi kehidupan mereka.

Kami mengundang semua yang memiliki pikiran yang terbuka untuk mempertimbangkan pokok ini. Buku Belief in God and Intellectual Honesty [Kepercayaan Pada Allah dan Kejujuran Intelektual menyatakan bahwa seseorang yang memiliki "kejujuran intelektual" memiliki "kesediaan untuk meneliti apa yang ia anggap benar" dan "untuk memberikan cukup perhatian pada bukti-bukti lain yang tersedia".

Dalam pokok yang akan kita bahas, 'bukti-bukti yang tersedia' semacam itu dapat membantu kita melihat apakah ada Pencipta yang menjadikan kehidupan dan jagat raya. Dan jika ada Pencipta, seperti apakah Pribadi tersebut? Apakah Pencipta memiliki kepribadian yang berhubungan dengan kehidupan kita? Dengan mempertimbangkan hal ini, kita dapat menjelaskan tentang bagaimana kehidupan kita dapat menjadi lebih bermakna dan bermanfaat.