Pages

Sunday, October 23, 2011

Apa yang Dapat Menambah Makna Kehidupan Anda?

PERNAHKAH Anda bermimpi untuk menikmati kehidupan yang lebih baik, apakah itu di daerah tempat tinggal Anda atau di sebuah firdaus tropis? Sewaktu-waktu, kebanyakan dari antara kita pernah mengimpikannya.

Pada tahun 1891, seniman Prancis Paul Gauguin pergi ke Polinesia Prancis untuk menemukan kehidupan semacam itu. Namun, tidak lama kemudian ia harus menghadapi kenyataan. Masa lalunya yang bejat menyebabkan penyakit dan penderitaan atas dirinya serta orang-orang lain. Seraya ia merasa ajalnya semakin dekat, ia melukis apa yang disebut sebagai "pernyataan terakhir daya artistik". Buku Paul Gauguin 1848-1903—The Primitive Sophisticate mengatakan, "Spektrum kegiatan manusia yang tercakup dalam lukisan ini menjangkau seluruh siklus kehidupan, dari kelahiran sampai kematian ... Ia menafsirkan kehidupan sebagai suatu misteri besar."

Lukisan Gauguin menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tentang makna kehidupan
Gauguin menamai lukisan itu "Dari Mana Kita Berasal? Siapa Kita? Ke Mana Tujuan Kita?"
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terdengar lazim. Pertanyaan demikian sering diajukan oleh banyak orang yang rasional. Setelah memperhatikan kemajuan ilmiah dan teknologi manusia, seorang editor The Wall Street Journal menulis, "Jika kita merenung tentang manusia itu sendiri, tentang dilema-dilemanya, tentang tempatnya di jagat raya ini, apa yang manusia ketahui sekarang hanya sedikit lebih maju dibandingkan dengan pada awal eksistensi manusia. Kita masih menghadapi pertanyaan-pertanyaan berkenaan siapa kita dan mengapa kita ada serta ke mana tujuan kita."

Memang, beberapa orang sibuk mengurus keluarga mereka, mencari nafkah, mengadakan perjalanan, atau sibuk dengan kepentingan pribadi lain karena mereka tidak mengetahui makna lain kehidupan. Albert Einstein pernah mengatakan, "Orang yang menganggap kehidupannya tidak bermakna bukan hanya tidak bahagia melainkan juga sama sekali tidak pantas hidup." Sejalan dengan pendapat demikian, beberapa orang berupaya memberikan makna pada kehidupan mereka dengan menekuni seni, penelitian ilmiah, atau upaya kemanusiaan untuk menekan penderitaan. Apakah Anda mengenal orang-orang seperti itu?

Dapat dipahami bahwa pertanyaan-pertanyaan dasar tentang makna kehidupan pun timbul. Berapa banyak orangtua yang setelah melihat seorang anak meninggal karena malaria atau penyakit lain bertanya: Mengapa ada penderitaan demikian? Apa makna penderitaan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan yang serupa membingungkan banyak pria dan wanita muda yang melihat kemiskinan, penyakit, dan ketidakadilan. Peperangan yang keji sering kali membuat orang bertanya-tanya mengenai makna kehidupan.

Bahkan bila Anda tidak mengalami kesengsaraan demikian, Anda mungkin setuju dengan Profesor Freeman Dyson, yang mengatakan, "Saya memiliki pandangan yang sama seperti banyak orang lain sewaktu saya mengajukan lagi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh [tokoh Alkitab] Ayub. Mengapa kita menderita? Mengapa dunia ini begitu tidak adil? Untuk apa ada penyakit dan tragedi?" Anda mungkin juga menginginkan jawabannya.

Jika kita memperoleh jawaban yang memuaskan, kita pasti akan dibantu untuk menemukan makna dalam kehidupan. Seorang profesor yang mengalami kekejian kamp konsentrasi di Auschwitz mengamati, "Tidak ada apa pun di dunia ini yang akan dengan begitu efektif membantu seseorang untuk bertahan hidup bahkan dalam keadaan yang paling buruk, selain daripada pengetahuan bahwa ada makna dalam kehidupan seseorang." Ia merasa bahwa bahkan kesehatan mental seseorang berkaitan dengan pencarian akan makna ini.

Selama berabad-abad, banyak orang mencari jawaban melalui agama. Setelah Gautama (Buddha) melihat seorang pria yang sakit, seorang pria yang tua, dan seorang pria yang mati, ia mencari pencerahan, atau makna, dalam agama namun tanpa mempercayai suatu pribadi Allah. Orang-orang lain berpaling pada gereja mereka.

Namun, bagaimana dengan orang-orang dewasa ini? Banyak orang memusatkan perhatian pada sains, meremehkan agama, dan "Allah" dianggap tidak relevan. "Semakin maju sains," komentar Religion and Atheism, "semakin tidak ada tempat untuk Allah. Allah telah menjadi Pribadi yang Tidak Diinginkan."

No comments:

Post a Comment