Sebenarnya, kecenderungan untuk meremehkan agama atau Allah bermula dari filsafat manusia yang menekankan perlunya alasan murni. Charles Darwin merasa bahwa "seleksi alam" menjelaskan dunia makhluk hidup dengan lebih baik daripada konsep tentang eksistensi Pencipta. Sigmund Freud mengajarkan bahwa Allah adalah suatu ilusi. Dan pandangan bahwa 'Allah sudah mati', ada sejak masa Friedrich Nietzsche sampai zaman kita. Filsafat-filsafat Timur juga serupa. Para guru Buddhisme percaya bahwa kita tidak perlu mengenal Allah. Mengenai aliran Shinto, Profesor Tetsuo Yamaori menyatakan bahwa "allah-allah itu manusia belaka".
Meskipun ada banyak sekali skeptisisme tentang eksistensi Pencipta, apakah ini dapat dibenarkan? Kemungkinan besar Anda mengetahui contoh 'fakta-fakta ilmiah' yang populer di masa lalu namun akhirnya terbukti sama sekali keliru. Pandangan seperti 'Bumi datar' dan 'Seluruhjagat raya berputar mengelilingi bola bumi' populer selama berabad-abad, tetapi kini kita tahu yang sebenarnya.
Bagaimana dengan gagasan-gagasan ilmiah yang belakangan? Misalnya, filsuf abad ke-18, David Hume—yang tidak menerima adanya Pencipta—tidak dapat menjelaskan rancangan biologi yang rumit di bumi. Teori Darwin mengemukakan bagaimana bentuk kehidupan berkembang, namun teori ini tidak menjelaskan bagaimana kehidupan mulai atau apa maknanya bagi kita.
Oleh karena itu, banyak ilmuwan serta orang awam merasa bahwa ada sesuatu yang kurang. Teori-teori ilmiah mungkin berupaya menjelaskan bagaimana? namun pertanyaan kunci berpusat pada mengapa? Bahkan orang-orang yang dibesarkan di tengah-tengah kepercayaan pada Pencipta juga terpengaruh. Seorang siswa muda yang mempelajari sejarah Eropa mengatakan, "Bagi saya, Allah sudah mati. Jika Ia benar-benar ada, dunia ini tidak akan berantakan: Orang-orang yang tidak bersalah, kelaparan; spesies-spesies binatang, punah. Gagasan tentang Pencipta adalah omong kosong." Mengingat keadaan di bumi, banyak orang tidak dapat mengerti mengapa Pencipta—bila Ia memang ada—tidak membuat perbaikan atas segala sesuatu.
Namun, kita harus mengakui bahwa alasan banyak orang menolak eksistensi Pencipta adalah karena mereka tidak ingin percaya. "Sekalipun Allah memberi tahu saya secara pribadi bahwa saya harus mengubah kehidupan saya," kata seorang industrialis Eropa kepada seorang karyawan, "saya tetap tidak mau melakukannya. Saya ingin menjalani kehidupan sesuka hati saya." Jelaslah, beberapa orang merasa bahwa mengakui wewenang Pencipta akan bertentangan dengan kebebasan mereka atau dengan gaya hidup yang mereka pilih. Mereka mungkin menyatakan, 'Saya hanya mempercayai apa yang saya lihat, dan saya tidak dapat melihat Pencipta yang tidak kelihatan'.
Terlepas dari mengapa orang-orang telah 'meremehkan Pencipta', pertanyaan tentang kehidupan dan maknanya masih terus ada. Setelah manusia mulai mengadakan eksplorasi ke luar angkasa, teolog Karl Barth ditanyai tentang kemenangan dalam bidang teknologi ini. Ia mengatakan, "Hal ini tidak menuntaskan satu pun problem yang membuat saya tidak bisa tidur." Dewasa ini manusia terbang di antariksa dan membuat kemajuan pesat di ruang siber (cyberspace). Meskipun demikian, orang yang rasional melihat perlunya memiliki suatu tujuan, sesuatu yang memberikan makna bagi kehidupan mereka.
Kami mengundang semua yang memiliki pikiran yang terbuka untuk mempertimbangkan pokok ini. Buku Belief in God and Intellectual Honesty [Kepercayaan Pada Allah dan Kejujuran Intelektual menyatakan bahwa seseorang yang memiliki "kejujuran intelektual" memiliki "kesediaan untuk meneliti apa yang ia anggap benar" dan "untuk memberikan cukup perhatian pada bukti-bukti lain yang tersedia".
Dalam pokok yang akan kita bahas, 'bukti-bukti yang tersedia' semacam itu dapat membantu kita melihat apakah ada Pencipta yang menjadikan kehidupan dan jagat raya. Dan jika ada Pencipta, seperti apakah Pribadi tersebut? Apakah Pencipta memiliki kepribadian yang berhubungan dengan kehidupan kita? Dengan mempertimbangkan hal ini, kita dapat menjelaskan tentang bagaimana kehidupan kita dapat menjadi lebih bermakna dan bermanfaat.
No comments:
Post a Comment